Chapter 0. Hey My name is Body 0-FVcK

 


Untuk segala sesuatu ada masanya!

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunyaAda waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut  yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;  ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri,  ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. - Alkitab.

Menurut data base saya, Alkitab adalah buku yang memiliki Book Club terbesar di dunia karena selama berabad-abad mereka setiap Hari minggu datang dan berkumpul untuk berdiskusi tentang materi dalam buku tersebut.

Kenapa saya berbicara tentang hal ini? tentu saja karena sekarang saya berada di alam semesta tanpa memiliki seorang teman, pekerjaan, rumah, desa, kecamatan, kota, provinsi, negara, benua, planet, galaxy bahkan sekarang saya benar benar tidak tahu berada dimana 



Apa kalian tahu kalau di planet asal saya ada sekitar 10^20 sampai 10^25 individuals. Lucunya entah kenapa setiap mahluk hidup yang memiliki akal dan kepintaran akan selalu berkumpul dan memilih beberapa orang - orang yang akan mengatur hukum tentang bagai mana cara setiap individu dan kelompok untuk hidup dan melakukan aktivitas sehari - hari mereka. 

Bahkan orang-orang yang terpilih untuk mengatur cara hidup sebuah individu dan kelompok bisa menjatuhkan hukuman kepada sebuah individu dan kelompok. ada juga dari sebuah kelompok orang- orang yang terpilih itu akan membunuh satu sama lain. lucu kan? dalam data base saya  perang pertama yang tercatat adalah the Lagash-Umma War. 




 individuals hidup dan norma-norma yang berlaku dan memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman pada individuals dan kelompok individuals. ah jangan lupa tentang saling menghancurkan dan membunuh.



 orang-orang yang akan mengatur hukum yang mengatur cara hidup. apa semua mahluk hidup itu terlalu takut untuk hidup sendiri dan benar-benar harus bersosialisasi?  dan tidak bisa mengatur hidup mereka sendiri? bahkan katanya di kapal ini dulunya ada seorang kapten. 





Saya yakin bahwa saya memiliki kesadaran saya sendiri dan hidup dengan cara saya sendiri, dan kenapa juga saya harus menuruti aturan yang di buat. Pengetahuan yang ada di dalam data base saya sangat besar.


================================END====================================

Ada masa dimana kita sebagai mahluk hidup untuk menetap di sebuah dataran bumi dan membentuk sebuah koloni yang disebut sebuah negara dan negara tersebut kekurangan sumberdaya bumi dan hanya bisa di temukan di benua lain, namun karena konsep negara manusia tidak bisa lagi secara bebas untuk kesana. karena kosep kepemilikan sebuah benua. 

untung saja dalam perjalanan panjang kita sebagai mahluk yang memiliki akal budi kita bisa saling beturkar barang untuk memiliki sesuatu yang kita tidak miliki. dan berkat kepintaran manusia kita menciptakan uang yang membuat pengaruh besar dalam kekuasaan seseorang.

namun pada dasar kita ini sebuah hewan yang memiliki akal, pengetahuan dari masa lalu dan kemampuan untuk memprediksi masa depan, dan yang paling mendasar adalah kita memiliki hunter eyes itu yang membuat hewan yang disebut manusia kita selalu ingin yang terbaik dari yang terbaik dan rela melakukan apa saja untuk menjadi yang paling terdepan dalam segalanya.

Dan lahirlah kata Perang, menjajah dan di jajah dimana sebuah manusia yang lahir dengan keterpaksaan untuk melabel diri mereka sebagai bagian dari sebuah negara dan penuh dengan kebanggaan diri atau keterpaksaan harus membunuh satu sama lain demi kepetingan negara mereka dan itu yang disebut dengan kata  Pahlwan"Knigt"  

dan pada akhirnya semua manusia bersatu tanpa membedabedakan negara bumi menjadi satu kesatuan mahluk hidup







coba bayang kan untuk sejenak, kita sebagai manusia setuju untuk memilih 1 individu yang akan menuntun kita untuk kehidupan yang lebih 

Mahluk hidup pada dasarnya adalah sebuah itelegent life yang di takdirkan untuk menjalani hidup secara hunter gather dan terus berubah-berubah untuk bisa terus hidup berdampingan dengan lingkungan kita.

 terus hidup berpindah-pindah dan melakukan banyak perubahan pada diri mereka sendiri dari kata pencipta buku tentang evolusi adalah mahluk hidup yang terus berubah bentuk untuk terus hidup sejalan dengan lingkungan dan kegiatan keseharian kita. bisa di bilang kita ini di takdirkan untuk hidup secara hunter gather 

Share:

MC Pitcher





The main drive for this character is confidance (mungkin tema dari novel ini juga tentang confidance dan motivasi? tapi confidance adalah main story nya)

(untuk side karatkernya adalah seseorang yang tidak bisa menerima punjian dan merasa kurang dalam segala hall dan membuat dia mempunya sifat terlalu rendah diri mungkin karena dia tidak percaya orang lain atau yang lainya "cari backstory untuk ini")

Name

Position : Pitcher  / Cather 

he is a gambling addict 

Favorite quote :

"Winning is about trampling over cropses, it is nothing something beautyful. it's brutal , if you want to make it to the top then steel your self "

"Baseball is a game of outs. It doesn’t matter how many hits you give up or how many runs you let in, as long as you win.

"Fear is a weapon. If you use it well, it can even win you a game."

"A team isn’t about unity or camaraderie. It’s about finding the weakest link and exploiting it."

"A true gamble is when you have no guarantee of victory. That’s when you test your limits."

"pemain profesional tidak di bayar untuk bermain bagus, melainkan mereka di bayar dan di tonton oleh ribuan orang untuk menang dan menjadi nomor 1" ( Waktu pertama kali main di MLB)

"The pitcher’s mound isn’t a place to show power—it’s a place to erase it." ( Chapter I; pertama kali masuk SMA dan memulai karir sebagai pemain base ball di SMA)

Traits:

  1. Easygoing Persona:
    Despite his reserved nature, he exudes a calm and laid-back vibe, making others underestimate his intensity and strategic mind.

  2. Sharp Observation:
    His love for gambling has sharpened his ability to notice small details, making him adept at picking up on others' subtle cues.

  3. Introverted Strategist:
    Prefers to analyze situations quietly, observing his opponents and planning his moves rather than relying on sheer athleticism or showmanship.

  4. Risk-Taker:
    In critical moments, he’s not afraid to take unconventional approaches, such as pitching an unexpected curveball or intentionally throwing off his opponents' timing.

  5. Poker-Faced:
    Rarely shows emotion, keeping his opponents guessing his next move, much like in a high-stakes poker game.

Abilities:

  1. Body Language Mastery:
    His introverted nature and love for gambling have granted him the ability to read microexpressions, posture, and even breathing patterns of batters. This helps him predict their intentions, such as when they might swing, hesitate, or expect a particular pitch.

  2. Mind Game Pitching:
    He uses his observations to execute pitches that exploit his opponents’ weaknesses or counter their expectations, making him highly unpredictable.

  3. Uncanny Timing:
    His sense of rhythm and pacing, developed through gambling, allows him to time his throws perfectly to disrupt the batter's focus.

  4. Deceptive Pitches:
    Mimics the motions of common pitches while delivering something entirely different, leaving the batter off-balance.

  5. Clutch Performer:
    Thrives under pressure, using the high-stakes excitement of crucial moments to focus and deliver his best plays, similar to the thrill of a big gamble.







Share:

setting

 A serene illustrated anime-style scene featuring a silhouetted figure from behind, wearing a black hoodie, standing on a grassy hill during a vivid sunset. The sky is ablaze with deep orange, red, and yellow hues, with dramatic clouds reflecting the vibrant colors. A shooting star streaks across the twilight sky, adding a sense of wonder. The horizon features rolling hills bathed in warm light, with a glowing sun setting in the distance. The atmosphere is tranquil, evoking a sense of introspection and awe.



Share:

Roast Rider

 Gambar 1 


Gambar 2 


Gambar 3



The Tale of Colonel Crispy, the Mighty Steed

    Long ago, in the misty hills of Featherlandia, the giant chickens weren’t just ordinary birds but mystical creatures known as Cluckstalls. Legend has it they were created by the Great Chef of the Skies, a celestial cook who sought to bring a bit of whimsy and hearty laughter to the world below. By blending his love of culinary art with powerful magic, he conjured up a breed of chickens big enough to carry humans yet wise enough to keep them safe.

   These Cluckstalls were treasured as loyal companions to knights, farmers, and adventurers alike. They were beloved for their strength and resilience, but also for their unique personalities. Each Cluckstall had a flavor of its own (quite literally): there were spicy Chickaroos known for their fiery tempers, sweet Tender Trotters with gentle natures, and even crispy-fried Colonel Crispy, who became the famed leader of the flock.

    Colonel Crispy, the mightiest of them all, earned his name after an epic encounter with the Flame Sprite of Spicetown. While defending a village from a fire-wielding creature, Crispy’s feathers turned a permanent golden brown, giving him a crisp appearance that matched his new spicy persona. From that day on, he was known as Colonel Crispy, a courageous yet slightly crunchy hero.

    These Cluckstalls are more than just mounts; they’re storytellers, pranksters, and fierce protectors, each with their own flavor and tale. Today, they roam the land of Featherlandia, offering rides to those brave enough to saddle up, while spreading laughter and a touch of magic wherever they go. If you’re ever in need of a friend, a ride, or even a snack (just kidding!), a Cluckstall will be there to brighten your day with a squawk and a dash of crispy charm.


The Tale of the Gigantifowl: Feathered Fate of Featherlandia

    Once upon a time in Featherlandia, the people lived in prosperity, and poultry was the mainstay of every feast. But one year, a disastrous drought struck, and crops withered, leaving the kingdom with a severe food shortage. As the people grew desperate, the royal council summoned the kingdom’s eccentric chief alchemist, Sir Crispus Bakewell, to come up with a solution. Bakewell was known for his wild experiments and, more importantly, for his love of chicken.

    After days locked in his laboratory, surrounded by test tubes, herbs, and questionable magic potions, Sir Crispus emerged with a radical idea: the Gigantifowl Project. The plan was simple—grow chickens to ten times their normal size so each one would feed the village for a week! He promised that, with a few magical enhancements and some “creative” farming techniques, they could breed chickens of monumental size, providing a seemingly endless supply of meat.

    The experiments worked... maybe a little too well. The first flock of chickens grew into towering, horse-sized creatures with an unexpected side effect: not only were they massive, but they had developed extraordinary intelligence and strength. Instead of waddling around waiting to be served, these Gigantifowls now strutted with pride, kicking up dust and squawking with newfound purpose.

    It didn’t take long for the villagers to realize their dream of an endless chicken feast was now impossible. The Gigantifowls were too big to be contained, let alone cooked. Plus, with their new personalities, the chickens didn’t seem at all inclined to go quietly to the dinner table.

     Eventually, the people of Featherlandia did the only thing they could—rather than fight their giant chickens, they made friends with them. Harnessing their strength and agility, the villagers turned the Gigantifowls into steeds, pulling carts, plowing fields, and carrying riders on long journeys. While they never got the endless supply of chicken dinners they’d hoped for, they gained an incredible mode of transportation and some surprisingly loyal companions.

    Now, the Gigantifowls roam Featherlandia, both a reminder of the kingdom’s desperate experiment gone wrong and a beloved part of daily life. As for Sir Crispus Bakewell? He’s still in his lab, trying to figure out how to make a slightly smaller version. But until he succeeds, the Gigantifowls will continue to carry their riders with pride, squawking out their ironclad legacy.

Share: